Change Language

Translate this page from Indonesian to the following language!

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

RESUSITASI JANTUNG DAN PARU

RESUSITASI JANTUNG DAN PARU

BANTUAN HIDUP DASAR

Keadaan gawat darurat bias terjadi kapan saja, dimana saja dan juga pada siapa saja. Keadaan ini menuntut masyarakat agar mereka mengetahui bagaimana tindakan pertolongan pertama pada korban dalam keadaan tersebut. Salah satu prevalensi tertinggi adalah serangan jantung.

Bantuan Hidup Dasar (BHD) adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk menolong korban yang dalam keadaan nyawanya terancam. Tindakan ini merupakan langkah kedua untuk menyelamatkan korban. Ada 4 langkah yang menentukan keberhasilan pertolongan korban yang mengalami serangan jantung (cardiac arrest) :

  1. Early acces
  2. Early CPR
  3. Early Defibrilation
  4. Early Advaced Cardiac life support

Tindakan CPR harus sudah dilakukan segera ketika korban mengalami serangan jantung, semakin lama korban tidak mendapat pertolongan maka semakin kecil kemungkinan selamat. CPR harus dilakukan kurang dari 4 menit. Tindakan RJP meliputi :

a. Air Way Control (A)

Tindakan ini fokusnya membebaskan jalan nafas dari sumbatan. Sumbatan jalan nafas dapat terjadi karena beberapa hal. Pada korban tidak sadar lidah bisa menutup jalan nafas. Selain itu benda asing juga menjadi obtruksi jalan nafas. Untuk membebaskan jalan oleh karena lidah, tindakan Head Tilt Chin Lift cukup efektif pada korban non trauma cervical. Bila dicurigai ada trauma cervical dapat melakukan Jaw Thrust Maneuver.

b. Breathing (B)

Periksa ada tidaknya pernafasan

Untuk memeriksanya tempatkan telinga penolong ke dekat mulut dan hidung korban sambil tetap membuka jalan nafas. Lakukan Look , lihat adakah pergerakan dada naik turun, Listen dengarkan suara nafas, Feel rasakan hembusan udara nafas korban.

Memberikan bantuan nafas

Bila tidak bernafas segera berikan nafas 2X. berikan tiupan nafas mouth to mouth dalam 1 detik dan harus menghasilkan pengembangan dada. Untuk itu saat memberikan bantuan nafas mata tetap selalu melihat pergerakan dada. Untuk korban yang mengalami henti nafas tanpa henti jantung, maka penolong harus melakukan bantuan nafas 10-12 kali/ menit (1 bantuan nafas setiap 5-6 detik) untuk dewasa, 12-20 kali/ menit untuk bayi dan anak (1 bantuan nafas setiap 3-5 detik)

c. Circulation Suport (C)

Chek Nadi

Bantuan sirkulasi segera dilakukan bila korban mengalami henti jantung, langkah ini dilakukan segera setelah bantuan pernafasan awal diberikan. Untuk mengetahui ada tidaknya denyut nadi, lakukan perabaan arteri karotis untuk dewasa dan anak-anak, arteri brachialis atau femoralis untuk bayi. Tindakan ini dilakukan maksimal 10 detik.

Kompresi dada

Dilakukan bila tidak ada denyut nadi. Segera lakukan RJP dengan teknik yang benar. Awali dengan mencari titik kompresi, cari arkus costa dari arah penolong berada kemudian susuri keatas hingga teraba bagian bawah sternum. Letakkan salah satu pangkal tangan yang lain diatas punggung tangan yang pertama, sehingga tangan dalam keadaan parallel. Pastikan sumbu pangkal tangan tepat pada sumbu sternum, jari-jari tangan saling mengunci. Untuk mendapatkan kompresi yang efektif, beban tekanan dari bahu, posisi lengan tegak lurus, posisi siku tidak boleh menekuk, posisi tangan tegak lurus dengan badan korban. Tekan sternum 4-5cm untuk dewasa, lepaskan tekanan hingga dada kembali ke posisi normal.

Perbandingan kompresi dan ventilasi untuk korban dewasa 30 : 2 dengan 1 maupun 2 penolong. Untuk bayi 30: 2 untuk 1 penolong, bila 2 penolong 15 : 2. kecepatan kompresi dianjurkan 100x/mnt. Setelah RJP dilakukan selama 5 siklus atau 2 menit chek nadi. Untuk mencegah kelelehan antara ventilator dan kompresor bergantian. RJP bias dihentikan apabila :

  1. Korban sudah muncul tanda-tanda kematian pasti
  2. Sudah ada respon dari korban (ada nafas dan nadi)
  3. Bila penolong sudah kelelahan. Tidak ada batas waktu

Langkah-langkah BHD :

1. Kaji respon (panggil, goncangan lembut)

2. Panggil bantuan

3. Buka jalan nafas (head tilt chin lift/ jaw thrust)

4. Keluarkan benda asing yang ada dalam mulut (cross finger, fingers sweep)

5. Periksa Nafas maks 10 detik

6. Berikan 2x bantuan nafas

7. Periksa nadi karotis maks 10 detik

8. mencari titik kompresi (2-3 jari diatas PX)

9. tempatkan 1 tangan pada titik tersebut, tangan yang lain letakkan diatasnya dengan posisi jari saling bertautan.

10. lakukan kompresi 30 kali, 100x/mnt teratur, diikuti dengan bantuan nafas 2 kali

11. RJP dilakukan selama 5 siklus

12. setelah 5 siklus periksa nadi karotis

13. korban pulih lakukan secondary survey (chek adanya luka, perdaran, patah tulang)

14. berikan posisi recovery, bila tidak ada kontra indikasi

0 komentar:

Poskan Komentar

Counter


counter

buku tamu


ShoutMix chat widget