Change Language

Translate this page from Indonesian to the following language!

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

KONTRASEPSI METODE SEDERHANA

A. METODE KALENDER/ PANTANG BERKALA
1. Pengertian
Pantang berkala atau sistem berkala merupakan salah satu cara kontrasespsi sederhana yang dapat dikerjakan sendiri oleh pasangan suami istri dengan tidak melakukan senggama pada masa subur. Dengan menggunakan sistem kalender setiap pasangan dimungkinkan dapat merencanakan setiap kehamilannya

2. Manfaat
a. Sebagai Kontrasepsi
1) Dapat digunakan untuk menghindari atau merencanakan kehamilan
2) Tidak ada resiko kesehatan yang berhubungan dengan kontrasepsi
3) Tidak ada efek samping
4) Murah dan tanpa biaya
b. Sebagai Nonkontrasepsi
1) Melibatkan suami dalam keluarga berencana
2) Menambah pengetahuan suami dalam keluarga berencana
3) Memungkinkan mempererat hubungan melalui peningkatan komunikasi suami istri

3. Kelemahan
a. Panjang siklus menstruasi setiap wanita tidak sama
b. Hanya sedikit wanita yang mempunyai daur haid teratur
c. Ovulasi tidak selalu terjadi pada hari ke 14
d. Penentuan masa tidak subur didasarkan pada kemampuan hidup sel sperma dalam saluran reproduksi wanita yaitu 5 hari.
e. Perdarahan yang kadang datang bersamaan dengan ovulasi dapat diinterpretasikan ssebagai menstruasi. Akibatnya, perhitungan masa tidak subur sebelum ovulasi dan masa tidak subur seteleh ovulasi menjadi tidak tepat
f. Penentuan masa tidak subur tidak berdasarkan pada siklus menstruasi sendiri
g. Adanya anggapan bahwa hari pertama siklus menstruasi dihitung dari berakhirnya perdarahan menstruasi bukan hari pertamanya sehingga pnghitungan dan penentuan masa tidak subur menjadi salah.
h. Suami istri tidak dapat melakukan hubungan seks setiap saat bila tidak menginginkan kehamilan. Sehingga harus dikombinasikan dengan pemakaian kontrasepsi lain seperti kondom.

4. Kelebihan
a. Dari segi ekonomi tidak mengeluarkan biaya
b. Dari segi kesehatan jelas lebih sehat karena tidak menimbulkan efek samping
c. Dari segi psikologis tidak mengurangi kenikmatan hubungan itu sendiri seperti bilamemakai kondom misalnya. Meski dilain pihak dituntut kontrol diri dari pasangan untuk ketat berpantang selama masa subur

5. Cara Menghitung Masa Subur dengan Sistem Kalender
Sebelumnya pasangan suami istri harus mengetahui masa subur. Karena siklus haid wanita tidak sama maka perlu pengamatan minimal 6 kali siklus menstruasi. Berikut ini cara mengetahui dan menghitung masa subur:
Bila Siklus haid teratur (28 hari)
Maka hari pertama dalam siklus haid dihitung sebagai hari ke-1. Masa subur adalah hari ke-3 sebelum dan sesudah ovulasi, yaitu 14 hari sebelum menstruasi berikutnya, yaitu pada hari ke-12 hingga hari ke-16 dalam siklus haid.
Contoh:
Seorang istri mendapat haid mulai tanggal 1 januari. Pada siklus 28 hari, ibu akan mendapatkan haid kembali pada tanggal 28 Januari. Sehingga perhitungan masa suburnya adalah 3 hari sebelum dan sesudah dari 14 hari sebelum haid berikutnya, yaitu tanggal 11 Januari sampai dengan tanggal17 Januari. Pada tanggal-tanggal tersebut suami istri tidak boleh melakukan hubungan seksual, karena apabila melanggar kemungkinan hamil sangat besar.

Tabel 4.1 tabel masa subur







Bila siklus tidak teratur:
a. Catar jumlah hari dalam satu siklus haid selama 6 bulan (6 siklus). Satu siklus dihitung mulai dari hari pertama haid saat ini hingga hari pertama haid berikutnya.
b. Jumlah hari terpendek dalam 6 kali siklus haid dikurangi 18. Hitungan ini menentukan hari pertama masa subur. Jumlah hari terpanjang selama 6 siklus haid dikurangi 11. Hitungan ini menentukan hari terakhir masa subur.
Rumus:
Hari pertama masa subur = jumlah hari terpendek dikurangi 18
Hari terakhir masa subur = jumlah hari terpanjang dikurangi 11
Contoh :
Seorang istri mendapat haid dengan keadaan siklus terpendek 25 hari dan siklus terpanjang 31 hari (mulai hari pertama haid sampai haid berikutnya)
Perhitungannya adalah :
25-18=7 dan 31-11=20, jadi masa suburnya adalah hari ke-8 sampai hari ke 21 dari hari pertama haid. Pada masa ini suami istri tidak boleh bersenggama.

6. Cara Menghitung MasaTidak Subur
Penghitungannya cukup mudah. Pertama-tama, selama 12 bulan, lama siklus haid dicatat. Dari catatan tersebut akan terlihat apakah siklus haid teratur atau tidak. Untuk siklus haid tidak teratur harap diperhatikan jumlah hari masa haid terpendek dan jumlah hari masa haid terpanjang.
Setelah catatan siklus haid diperoleh, tinggal menghitung lama masa tidak subur. Menghitung masa tidak subur sebelum ovulasi adalah dengan cara mengurangkan masa haid terpendek dengan 21. Angka 21 berasal dari penjumlahan lama pematangan sel telur (16 hari) dan kemampuan hidup sel sperma dalam rahim (5 hari). Misalkan masa haid terpendek adalah 28 hari, maka masa tidak subur sebelum ovulasi adalah hari pertama sampai hari ketujuh (28-21=7). Jika masa haid terpendek 25 hari, maka masa tidak subur adalah hari pertama sampai hari keempat (25-21-4).
Masa tidak subur setelah ovulasi dihitung dengan cara mengurangkan masa haid terpanjang dikurangi 9. Angka 9 diperoleh dari pengurangan lama pematangan sel telur terpendek (11 hari) dengan kemampuan hidup sel telur (20 hari). Misal, masa haid terpanjang 28 hari, maka masa tidak subur setelah ovulasi mulai hari ke 19 sampai haid berikutnya. Jika masa haid terpanjang 30 hari, maka masa tidak subur mulai hari ke 21 sampai haid berikutnya.

7. Wanita yang Dapat dan Tidak Dapat menggunakan Sistem Kalender
a. Wanita yang diperbolehkan
1) Semua perempuan semasa reproduksi, baik siklus haid teratur maupun tidak teratur, tidak haid baik karena menyusui maupun pramenopause.
2) Semua perempuan dengan paritas berapa pun termasuk nulipara
3) Perempuan kurus ataupun gemuk
4) Perempuan yang merokok
5) Perempuan dengan alasan kesehatan tertentu antara lain hipertensi sedang, varises, disminorea sakit kepala sedang atau hebat, mioma uteri, endometritis, kista ovarii, anemia defisiensi besi, hepatitis virus, malaria, trombosis vena dalam, atau emboli paru.
6) Pasangan dengan alasan agama atau filosofi untuk tidak menggunakan metode lain.
7) Perempuan yang tidak dapat menggunakan metode lain.
8) Pasangan yang ingin pantang senggama lebih dari seminggu setiap siklus haid.
9) Pasangan yang ingin dan termotivasi untuk mengobservasi, mencatat, dan menilai tanda dan gejala kesuburan
b. Wanita yang seharusnya tidak menggunakan
1) Perempuan dengan umur, paritas atau masalah kesehatan yang membuat kehamilan menjadi suatu kondisi resiko tinggi.
2) Perempuan sebelum mendapat haid(menyusui, segera setelah abortus)
3) Perempuan dengan siklus haid yang tidak teratur.
4) Perempuan yang pasangannya tidak mau bekerja sama (berpantang) selama waktu tertentu dalam siklus haid
5) Perempuan yang tidak suka menyentuh daerah genitalnya.

B. METODE KONTRASEPSI SUHU BASAL
Suhu basal adalah suhu tubuh sebelum ada aktifitas apapun, biasanya diambil pada saat bangun tidur dan belum meninggalkan tempat tidur. Suhu basal akan meningkat setelah ovulasi. Pencatatan suhu dilakukan setiap hari pada sebuah tabel/ kertas grafik.

Gambar4.1 grafik suhu basal




Prinsip yang digunakan dalam metode suhu basal tubuh adalah menentukan masa subur, yaitu 4 hari sebelum ovulasi karena sperma dapat hidup sampai 4 atau 5 hari sampai 3 hari seteleh ovulasi dan menghindari senggama pada saat itu atau senggama dengan menggunakan alat kontrasepsi, misalnya kondom.
Metode ini berdasarkan kenaikan suhu tubuh setelah ovulasi sampai hari sebelum menstruasi berikutnya. Untuk mengetahui suhu tubuh benar benar naik maka harus dengan termometer yang sama dan pada tempat yang sama (di mulut, anus,vagina) setiap pagi setelah bangun tidur sebelum mengerjakan apapun dan dicatat pada tabel.
Kenaikan suhu basal merupakan salah satu tanda bahwa tubuh sedang mengalami ovulasi (masa subur), sehingga dapat digunakan sebagai penentu kapan melakukan hubungan seksual agar tidak terjadi pembuahan.
1. Penentuan Masa Subur
Siklus menstruasi dipengaruhi oleh hormon seks perempuan yaitu esterogen dan progesteron. Hormon-hormon ini menyebabkan perubahan fisiologis pada tubuh perempuan yang dapat dilihat melalui beberapa indikator klinis seperti:
a. Perubahan suhu basal tubuh
b. Perubahan sekresi lendir serviks
c. Perubahan pada serviks
d. Panjangnya siklus menstruasi
e. Indikator minor kesuburan seperti nyeri perut dan perubahan payudara
Fase subur dan tidak subur dapat dinilai dengan akuran dan dapat digunakan untuk merencanakan dan menghindari kehamilan. Siklus menstruasi dibagi dalam 2 fase yaitu fase sebelum ovulasi dan fase setelah ovulasi.
1) Fase sebelum ovulasi
a) Fase sebelum ovulasi dikontrol oleh FSH dan esterogen. Kelenjar ptuitari pada dasar otak akan mengeluarkan FSH yang akan merangsang pematangan folikel di ovarium. Pematangan folikel ini akan meningkatkan produksi esterogen.
b) Pada saat kenaikan esterogen mendekati ovulasi, terjadi perubahan-perubahan sebagai berikut:
- Endometrium menebal
- Serviks menjadi panjang dan lunak serta terbuka
- Lendir serviks yang diproduksi oleh kelenjar-kelenjar pada serviks menjadi lendir yang bersahabat dengan sperma.
- Peningkatan garam, gula, dan asam amino untuk memberikan makanan pada sperma.
- Peningkatan cairan sampai dengan 10 kali peningkatan volume lendir.
- Lendir yang subur terdiri dari 98% air yang transparan, berkilat, licin, elastis yang disebut efek spinnbarkeit
- Struktur lendir yang subur bila dilihat dengan menggunakan nuclear magnetic resonance memperlihatkan jaringan yang jarang sehingga dapat dilewati oleh sperma.
c) Fase sebelum ovulasi
Ketika esterogen mencapai tingkat tertentu dalam darah, kelenjar ptuitari dstimulasi untuk menghasilkan LH yang meningkat cepat yang kemudian akan menimbulkan ovulasi (pecahnya folikel yang matang dan mengeluarkan ovum) dalam 36 jam kemudian.
2) Fase setelah ovulasi
a) Fase setelah ovulasi dikontrol oleh progesteron.
b) Setelah ovulasi, LH menyebabkan pecahnya folikel yang kemudian folikel tersebut akan berkembang menjadi korpus luteum, yang memproduksi progesteron.
c) Dibawah pengaruh progesteron terjadi perubahan-perubahan, sebagai berikut:
- Endometrium melunak guna mempersiapkan diri untuk menerima implantasi telur yang telah dibuahi.
- Serviks memendek, keras, dan tertutup.
- Lendir serviks menjadi tidak bersahabat untuk mencegah penetrasi sperma.
- Setelah ovulasi terdapat perubahan status kesuburan jaringan filamen-filamen menjadi lebih padat membentuk lendir yang tebal yang mencegah penetrasi sperma. Sperma secara cepat akan dirusak oleh cairan vagina yang bersifat asam.
- Suhu akan meningkat sekitar 0,20C atau lebih.
Korpus luteum akan bertahan sekitar 14 hari, kemudian akan kisut dan mati; progesteron akan turun; suhu turun; dan endometrium akan mengalami disintegraasi sehingga terjadilah menstruasi dan lengkaplah satu siklus. Hari pertama menstruasi adalah hari pertama siklus.
Hari-hari setelah menstruasi merupakan hari-hari yang relatif tidak subur. Fasi subur terjadi di sekitar ovulasi. Adanya lendir serviks menandakan mulainya fase subur, sperma dapat hidup dalam lendir tersebut untuk menunggu ovulasi. Setelah ovulasi, kesuburan ditentukan lamanya bertahan hidup dan kemungkinan terjadinya ovulasi kedua dalam 24 jam. Masa tidak subur setelah ovulasi ditentukan dengan kombinasi temperatur dan lendir kira-kira tiga hari setelah ovulasi. Fase ini akan berakhir sampai dimulainya menstruasi berikutnya. Fase setelah ovulasi ini paling efektif untuk menghindari kehamilan.

2. Cara Mengukur Perubahan Suhu Basal
Cara mengukur suhu basal adalah
a. Syaratnya tidur malam paling sedikit selama 5 sampai 6 jam.
b. Suhu diukur segera setelah bangun tidur sebelum bangkit dari tempat tidur dan sebelum melakukan aktifitas lainnya serta dilakukan lebih kurang pada waktu yang sama.
c. Waktu pengukuran yang bervariasi lebih dari 1 jam, harus dicatat.
d. Suhu diukur lewat mulut, aksila, atau anus.
1) Mulut. Ujung perak termometer diletakkan di bawah lidah dengan bibir tertutup selama lebih kurang 5 menit
2) Aksila. Waktu pencatatan lebih kurang 10 menit
3) Anus. Dengan menggunakan jely atau vaselin yang dioleskan di ujung termometer, termometer dimasukkan ke anus dengan perlahan, dengan posisi berbaring pada salah satu sisi dan lutut ditarik keatas. Waktu pencatatan lebih kurang 3 menit.
e. Untuk akurasi, bila salah satu metode telah dipilih untuk digunakan, maka sebaiknya tidak diganti sampai dengan siklus berikutnya.
f. Membuat grafik untuk menggambarkan hasil pembacaan suhu dengan sebuah titik pada lokasi yang sesuai. Titik-titik ini kemudian dihubungkan untuk membentuk sebuah grafik. Jika terjadi kelupaan pengukuran, titik-titik tersebut tidak boleh disambung.
g. Termometer sebaiknya dibersihkan dengan kapas dan air dingin.
h. Grafik baru dimulai pada hari pertama menstruasi. Jika menstruasi mulai pada siang hari, hasil pengukuran pada pagi harinya dipindahkan pada grafik yang baru.
i. Segala sesuatu yang tidak biasa seperti demam, tidur larut, kondisi sedang stress sebaiknya dicatat.

3. Grafik Metode Suhu Basal
Suhu akan berada pada tingkat yang rendah sampai dengan terjadinya ovulasi ketika peningkatan terjadi sekitar 0,20 C atau lebih. Peningkatan ini biasanya terjadi secara tiba-tiba antara satu hari dengan hari berikutnya. Selanjutnya suhu akan menetap pada tingkat yang lebih tinggi sampai sebelum atau pada awal menstruasi selanjutnya.

Gambar 4.2 grafik suhu basal





Aturan perubahan suhu:
a. Ukur suhu ibu pada waktu hampir sama setiap pagi (sebelum bangkit dari tempat tidur) dan catat suhu ibu pada kertas atau kartu.
b. Pakai catatan suhu tersebut untuk 10 hari pertama dari siklus haid ibu untuk menentukan suhu tertinggi dari suhu yang “normal, rendah” (misalnya, catatan suhu harian pada pola tertentu tanpa suatu kondisi yang luar biasa). Abaikan setiap suhu tinggi yang disebabkan oleh demam atau gangguan lain.
c. Tarik garis pada 0,05 0C -0,10C di atas suhu tertinggi dari suhu 10 hari tersebut. Ini dinamakan garis pelindung (cover line) atau garis suhu.
d. Masa tidak subur mulai pada sore setelah hari ketiga berturur-turut suhu berada di atas garis pelindung tersebut (aturan perubahan suhu).
Catatan :
a. Jika salah satu dari 3 suhu berada di bawah garis pelindung selama perhitungan 3 hari, ini mungkin tanda bahwa ovulasi belum terjadi. Untuk menghindari kehamilan tunggu sampai 3 hari berturut-turut suhu tercatat diatas garis pelindung sebelum memulai senggama.
b. Ketika mulai masa tidak subur, tidak perlu mencatat suhu basal ibu. Ibu dapat berhenti mencatat sampai haid berikut mulai dan bersenggamasampai hari pertama haid berikutnya.
c. Jika 6 hari secara berturut-turut suhu rendah (36,40C-36,70C), kemudian 3 hari berturut-turut suhu lebih tinggi (36,90C-37,50C), maka setelah itu dapat dilakukan senggama tanpa menggunakan alat kontrasepsi.

4. Variasi Hari Terjadinya Perubahan Suhu
Panjang siklus akan bervariasi tetapi perubahan suhu terjadi 12-16 hari sebelum menstruasi berikutnya sehingga pada siklus yang pendek, perubahan suhu terjadi lebih awal, sedang pada siklus yang panjang terjadi kemudian. Panjang fase subur sebelum ovulasi akan bervariasi tetapi fase tidak subur setelah ovulasi cenderung tetap.

5. Keuntungan dan Kekurangan Metode Suhu Basal
a. Keuntungan :
1) Memiliki tingkat keamanan yang tinggi jika suhu diukur secara rutin dan senggama sebelum ovulasi dilakukan dengan menggunakan alat kontrasepsi lain.
2) Murah dan tidak memerlukan pengawasan
3) Mengurangi kemungkinan penularan penyakit kelamin
4) Tidak ada efek samping sistemik.
b. Kekurangan :
1) Kesalahan dapat terjadi jika sedang mengalami sakit, mengukur tidak pada waktu biasanya, tidur larut malam, ganti termometer, ganti tempat mengukur suhu.
2) Harus diperhatikan pada kasus-kasus tertentu, seperti ibu menyusui, karena siklus yang sangat tidak teratur.
3) Kelemahan cara ini adalah bila seseorang lupa untuk melakukannya.
4) Pengukuran yang tidak tepat.
5) Perlu pencatatan setiap hari.
c. Sebab-sebab kegagalan :
1) Infeksi
2) Ketegangan
3) Waktu tidur tak teratur
4) Salah membaca termometer
5) Salah mencatat grafiknya
6) Salah interpretasi.

C. Metode Lendir Serviks/ Metode Ovulasi Billings (MOB)
1. Pengertian
Adalah metode yang aman dan ilmiah untuk mengetahui kapan masa subur wanita. Cara ini dapat dipakai untuk menjadi hamil maupun untuk menghindari atau menunda kehamilan. Metode ini diterapkan berdasarkan pengamatan diri sendiri terhadap gejala-gejala yang secara alamiah dialami oleh setiap wanita yang normal.

2. Kegunaan
a. Suami istri dapat merencanakan atau menunda kehamilan
b. Menentukan waktu yang dikendaki untuk hamil
c. Menentukan jenis kelamin anak yang diinginkan.

3. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam metode ovulasi
a. Setiap wanita yang subur pasti akan mengetahui bahwa diantara dua masa haid, ia mengeluarkan lendir putih yang berasal dari kelenjar leher rahim.
b. Lendir ini menunjukkan bahwa wanita tersebut sedang subur (hal yang fisiologis) dan bila saat itu diadakan senggama dapat terjadi kehamilan.
c. Pada permulaan lendir tersebut sedikit dan kelihatan agak keruh, lengket, putih atau agak kekuning-kuningan. Dari hari ke hari keluarnya lendir akan bertambah banyak, terasa licin, pada vulva dan menjadi makin cair, jernih memberi rasa basah atau licin dan dapat mulur seperti putih telur mentah. Setelah beberapa hari berubah menjadi lengket atau kental kembali dan akhirnya berhenti atau terasa kering.


Apa masa subur? Cara Mengetahui Masa Subur
Masa subur adalah masa dimana tersedia sel telur yang siap dibuahi. Masa subur ditandai oleh kenaikan Luteinizing Hormon (LH), Folicle Stimulating Hormon (FSH) dan estrogen.
Masa subur merupakan rentang waktu sejak sel telur keluar dari indung telur hingga sel telur berada di saluran telur (saluran tuba falopi). Sel telur berada dalam tuba falopi selama kurang lebih 3-4 hari namun hanya sampai umur 2 hari masa yang paling baik untuk dibuahi, setelah itu mati.
Perhatian :
Masa subur berkaitan erat dengan menstruasi dan siklus menstruasi, selain itu juga dipengaruhi oleh kondisi psikis wanita. Menghitung masa subur dengan menghitung siklus haid agak susah dilakukan jika siklus haid tidak teratur atau sedang menggunakan obat-obat tertentu yang bisa mempengaruhi siklus haid. 1. Perubahan lendir mulut rahim (efek spin)
2. Adanya rasa nyeri pada perut bagian bawah (mittelschmerz) karena pecahnya folikel (sel telur yang membesar, siap untuk ber-ovulasi)
3. Pengecekan suhu basal badan
4. Menghitung masa subur dengan menghitung siklus menstruasi.
5. USG
6. Mengukur kadar LH pada urine
Dengan pemeriksaan melalui USG atau mengukur kadar LH pada urine marupakan cara yang paling efektif, namun untuk USG selain kurang praktis juga memerlukan biaya yang lebih besar. Sedangkan dengan pengukuran LH pada urine, selain lebih ekonomis juga praktis karena bisa dilakukan sendiri dan kapan saja diperlukan.

Hari subur adalah hari-hari adanya lendir yang terasa licin dan basah dan selama tiga hari. Kadang-kadang ada sedikit darah atau bercak darah yang keluar dengan lendir, biasanya hal ini menunjukkan bahwa ovum telah terlepas dari corpusnya yang berarti bahwa wanita tersebut dalam keadaan subur atau terjadinya ovulasi. Masa subur dapat dijadikan patokan bagi yang menginginkan kehamilan dan bagi yang ingin menunda kehamilan.
Bila klien menginginkan memiliki anak maka ada beberapa hal yang perlu disampaikan, antara lain:
a. Perhatikanlah hari-hari dimana wanita terasa adanya lendir yang basah dan licin dan mulur (seperti putih telur mentah)
b. Hari-hari ini baik digunakan untuk senggama karena kemungkinan bisa terjadi kehamilan.
c. Suami melakukan pantang senggama selama beberapa hari sebelum melakukan senggama supaya kualitas sperma lebih baik.
Namun bila klien tidak menginginkan anak maka hal yang perlu disampaikan :
a. Jangan bersenggama pada hari haid. Selain karena alasan kesehatan juga karena pada akhir haid kemungkinan lendir sudah mulai keluar, tetapi tidak terlihat karena bercampur dengan darah haid. Hal ini dapat terjadi pada siklus pendek (polimenor)
b. Jangan bersenggama pada waktu masa subur, yaitu hari-hari waktu keluar lendir yang licin basah, dibambah 3 hari atau 3 malam sesudahnya, hal ini berkaitan dengan perhitungan masa hidupnya ovum.
c. Jangan bersenggama pada hari dimana terjadi sedikit perdarahan diantara dua masa haid dan selama tiga hari sesudahnya.

4. Pelaksanaan Metode Ovulasi
Ada 2 syarat yang harus dipenuhi agar cara ini betul-betul dapat diandalkan sebagai KB yang aman:
a. Dari pihak istri, harus membiasakan diri untuk memperhatikan keadaan tubuh sendiri untuk dapat mengerti dan memastikan kapan masa suburnya.
b. Dari pihak suami, perlu kerelaan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan tubuh istrinya dalam melakukan senggama.

5. Syarat Keberhasilan KB Alamiah
a. Pasangan suami istri harus mempunyai motivasi yang sama untuk ber KB secara alami, adanya saling pengertian dan tanggung jawab suami dalam berKB alami.
b. Adannya konseling dan pengetahuan yang cukup mengenai KB alamiah dan Informed choice.
c. Adanya dukungan dari komunitas berupa tersedianya klinik keluarga berencana yang ditangani oleh seorang dokter yang berpengalaman dalam teknik KB alami.

6. Pedoman Pencatatan (istri) :
a. Bila klien ingin mengetahui tanda-tanda lendir dengan jelas hindarilah senggama selama satu siklus haid.
b. Mulailah mengisi formulir pada hari yang telah ditentukan. Tidak perlu menunggu sampai hari haid tiba.
c. Pengamatan dapat dilakukan sewaktu-waktu sepanjang hari, tapi dianjurkan 3 kali sehari (pagi, siang, malam).
d. Pengisian form sebaiknya dilakukan malam hari. Isilah hari dan tanggal lalu tulislah hasil pengamatan yaitu hal-hal yang klien rasakan pada hari itu. Lalu berilah tanda dengan spidol warna sesuai dengan petunjuk sebagai berikut:
1) Bila haid mulai, tulislah tanggal pada ruas baris ketiga dan mulailah dengan pemberian warna dengan spidol merah pada ruas baris kedua. Meskipun sedang haid lendir dapat keluar, harap waspada! (terutama bila haid sudah mulai berkurang). Tulislah bila ada lendir dengan darah menstruasi (flek-flek) yang keluar pada baris keempat.
2) Bila haid berhenti dan dirasakan kering, introitus vagina atau tidak ada pengeluaran lendir maka tulislah kering dan tandailah dengan spidol berwarna hijau pada malam harinya sampai rasa kering berhenti.
Hari-hari kering yakni hari tidak subur pertama (MASA AMAN) hari-hari aman dan boleh untuk bersenggama tanpa ada kemungkinan hamil. Tapi untuk amannya dipakai peraturan awal yaitu selang-seling (jangan 2 hari berturut-turut).
Bagi mereka yang siklus haidnya tidak teratur kemungkinan hari-hari kering tidak ada harus mendapat perhatian khusus, sebagai berikut :
a. Banyaknya hari-hari kering sesudah haid tidak tentu, bisa panjang atau bahkan tidak ada sama sekali. Hal ini dipengaruhi cepat lambatnya ovulasijuga dipengaruhi psikologisnya.
b. Kalau lendir mulai dikeluarkan catatlah sifat lendir yang dirasakan. Selama lendir yang dikeluarkan bersifat keruh isilah dengan warna kuning. Pada hari keluarnya lendir ini sebaiknya jangan melakukan seks.
c. Menjelang ovulasi sifat lendir yang keluar semakin jernih dan cair, memberikan rasa licin dan basah, dan bila direntangkan antara jempol dan jari merentang panjang tanpa putus. Lendir tersebut seperti putih telur mentah. Berilah kode warna putih/ biru dengan gambar bayi. Lendir inilah yang membuat wanita sangat subur. Pada saat ovulasi kadang-kadang dirasakan sakit sekitar lambung pada kunci paha.
d. Hari terakhir pada pengeluaran lendir yang licin, basah, pada vulva adalah puncak kesuburan atau hari paling mungkin menjadi hamil. Dalam catatan ditandai X.
e. Hari pertama sesudah puncak ditandai dengan keluarnya lendir yang keruh lagi dan sedikit lengket atau langsung berhenti sama sekali sehingga terasa kering kembali. Bila ini terjadi maka dapat ditentukan hari puncak dengan memberi tanda X pada hari itu. Tapi jika lendir yang keluar masih licin dan basah berarti belum melewati puncak, walaupun lendir yang keluar keruh dan buram.
f. Selama 3 hari sesudah hari puncak masih dalam keadaan subur, jadi masih pantang bersenggama. Jika dalam waktu 3 hari itu masih ada lendir yang keluar (lengket dan keruh) maka harus dicatat dengan kode warna kuning (gambar bayi). Jika lendir habis dan merasa kering gunakan warna hijau ( gamabar bayi).
g. Pada hari ke-4 sesudah puncak bila merasa kering berilah kode hijau polos. Mulai malam hari ini sampai siklus haid berikutnya adalah aman untuk bersenggama. Walaupun masih ada lendir keruh keluar. Catat lendir ini dengan warna kuning.
h. Haid berikutnya akan terjadi 2 minggu (12-16 hari, minimal 19 hari) sesudah hari puncak kesuburan. Jika haid tiba periksalah apakah penentuan mengenai hal puncak sesuai dengan jangka waktu itu.
i. Haid berikutnya mulailah catat siklus baru dihalaman baru. Catat tanggal mulai haid dan hari, urut mulai dari satu.
j. Ada baiknya setiap senggama diberi tanda (tanda anak panah) dalam catatan anda. Sekurang-kurangnya hari terakhir senggama sebelum masa subur dan senggama pertama setelah masa subur. Dengan demikian kesalahan akan cepat diketahui dan tidak terulang lagi,
k. Pada saat istri hamil tidak perlu melakukan pencatatan kira-kira 1 bulan atau 40 hari setelah melahirkan pencatatan dilakukan lagi agar dapat diketahui kapan kembalinya masa kesuburan dan supaya tidak segera terjadi kehamilan lagi, sehingga tidak perlu menunggu sampai mulai haid lagi.
Contoh kode yang dipakai untuk mencatat kesuburan
Pakai tanda bintang (*) atau merah untuk menandakan perdarahan (haid). Pakai huruf K atau hijau untuk menandakan perasaan kering.
Gambar suatu tanda (L) atau biarkan kosong untuk memperlihatkan lendir subur yang basah, jernih, licin, dan mulur.
Pakai huruf L atau warna kuning untuk memperlihatkan lendir tak subur yang kental, putih, keruh dan lengket.


7. Efektifitas
95% bila dilakukan dengan cermat, tingkat keefektifitasannya mencapai 97%. MOB tidak memerlukan obat, apalagi alat. Cukup mengenali lendir kesuburan, dan itu bisa dilakukan semua perempuan. Efektif dilakukan untuk perempuan segala masa reproduksi, remaja, sedang menyusui maupun menjelang menopause.

8. Keuntungan
a. Tidak memiliki resiko kesehatan
b. Disetujui agama
c. Metode ini cukup berhasil bila suami istri memiliki motivasi
d. Membuat wanita lebih waspada dan mengenal siklus haidnya.

9. Kelemahan
Memerlukan ketelitian dan harus mengikuti langkah-langkah untuk memperkirakan terjadinya ovulasi. Pasangan suami istri harus mempunyai motivasi yang kuat. Karena siklus menstruasi dan masa subur sangat bervariasi, metode ini memerlukan penyesuaian.

10. Manfaat
a. Kontrasepsi
1) Dapat digunakan untuk menghindari atau mencapai kehamilan
2) Tidak ada resiko kesehatan yang berhubungan dengan kontrasepsi.
3) Tidak ada efek samping sistemik
4) Murah tau tanpa biaya.
b. Non kontrasepsi
1) Meningkatkan keterlibatan suami dalam keluarga berencana.
2) Menambang pengetahuan tentang sistem reproduksi oleh suami dan istri.
3) Memungkinkan mengeratkan hubungan melalui peningkatan komunikasi suami istri.

11. Keterbatasan
a. Sebagai kontraseptif sedang (9-12 kehamilan per 100 perempuan selama tahun pertama pemakaian.
b. Keefektifan tergantung dari kemauan dan disiplin pasangan mengikuti instruksi.
c. Perlu ada pelatihan sebagai persyaratan untuk menggunakan jenis KBA yang paling efektif secara benar.
d. Dibutuhkan konselor KBA (yang berasal bukan tenaga medis)
e. Konselor KBA harus mampu membantu ibu mengenali masa subur, memotivasi pasangan untuk mentaati aturan jika ingin menghindari kehamilan dan menyediakan alat bantu jika diperlukan, misalnya buku catatan khusus dan thermometer.

D. Metode Simptotermal
Adalah gabungan dari metode KB alamiah untuk menentukan masa subur atau ovulasi, antara lain metode basal suhu tubuh dan metode lendir serviks. Efektifitas kegagalan 4,9-34,4 kehamilan pada 100 wanita pertahun.
1. Metode suhu Basal Tubuh
Berdasarkan kenaikan suhu tubuh seteleh ovulasi sampai sehari sebelum menstruasi berikutnya. Harus selalu diukur dengan termometer yang sama dan pada tempat yang sama setiap pagi setelah bangun tidur sebelum mengerjakan apapun dan dicatat pada tabel. Syaratnya tidur malam paling sedikit 5-6 jam. Jika 6 hari secara berturut-turut suhu rendah (36,4-36,70C), kemudian 3 hari berturut-turut suhu lebih tinggi (36,9-37,50C), maka setelah itu dapat dilakukan senggama tanpa menggunakan alat kontrasepsi.

2. Metode bentuk lendir servik
Pengamatan dilakukan pada lendir servik. Menjelang ovulasi lendir ini akan mengandung banyak air (encer) sehingga mudah dilalui sperma. Setelah ovulasi lendir kembali menjadi lebih padat.
Jika lendir mulai keluar atau bagi wanita yang mengalami keputihan (sering mengeluarkan lendir) lendir mengencer, bergumpal-gumpal dan lengket, hal ini menunjukan akan terjadi ovulasi. Sehingga senggama harus dihindari dengan menggunakan alat kontrasepsi.
Pada puncak masa subur, yaitu menjelang dan pada saat ovulasi lendir akan keluar dalam jumlah lebih banyak menjadi transparan, encer dan bening seperti putih telur dan dapat ditarik diantara dua jari seperti benang. Tiga hari setelah puncak masa subur dapat dilakukan senggama tanpa alat kontrasepsi.
Lendir dari servirks tidak dapat diamati pada saat sedang terangsang dan beberapa jam setelah senggama, karena dinding vagina juga akan mengeluarkan lendir yang akan memalsukan lendir servik.

3. Kontraindikasi
a. Siklus haid yang tidak teratur
b. Riwayat siklus haid yang tidak an-ovulatoir.
c. Kurve suhu badan yang tidak teratur

4. Komplikasi
a. Komplikasi yang langsung tidak ada
b. Persoalan timbul bila terjadi kegagalan kehamilan karena data-data yang menunjukan timbulnya kelainan-kelainan janin sehubungan dengan terjadinya fertilisasi oleh spermatozoa dan ovum yang berumur tua/ terlalu matang.


5. Keuntungan
a. Aman
b. Murah
c. Dapat diterima oleh banyak golongan agama
d. Sangat berguna untuk merencanakan maupun menghindari terjadinya kehamilan.
e. Mengajarkan wanita perihal siklus haid.
f. Tanggung jawab suami istri sehingga menambah komunikasi dan kerjasam.

6. Kerugian
a. Kurang begitu efektif dibandingkan dengan metode-metode kontrasepsi yang lain.
b. Perlu intsruksi dan konseling sebelum memakai metode ini.
c. Memerlukan cataan siklus haid yang cukup.
d. Dapat menghambat spontanitas seksual, stres psikologis dan kesulitan-kesulitan dalam perkawinan.
e. Bila siklus haid tidak teratur dapat mempersulit metode kontrasepsi ini
f. Bila terjadi kehamilan ada resiko bahwa ovum/ spermatozoa sudah terlalu tua.

E. Coitus Interruptus
1. Pengertian
Metode koitus interuptus juga dikenal dengan metode senggama terputus. Teknik ini dapat mencegah kehamilan dengan cara sebelum terjadi ejakulasi pada pria, seorang pria harus menarik penisnya dari vagina sehingga tidak setetespun sperma masuk kedalam rahim wanita. Dengan cara ini kemungkinan terjadinya pembuahan (kehamilan) bisa dikurangi.


2. Cara Kerja
Alat kelamin pria dikeluarkan sebelum ejakulasi sehingga sperma tidak masuk ke dalam vagina dan kehamilan dapat dicegah.

3. Manfaat
a. Efektif bila digunakan dengan benar.
b. Dapat digunakan sebagai pendukung metode KB lainnya.
c. Dapat digunakan setiap waktu
d. Tidak membutuhkan biaya.
e. Tidak membutuhkan obat atau alat sehingga relatif sehat untuk perempuan
f. Tidak mengganggu produksi ASI
g. Tidak ada efek samping
h. Meningkatkan keterlibatan pria dalam keluarga berencana.
i. Untuk pasangan memungkinkan hubungan lebih dekat dan pengertian yang sangat dalam

4. Keterbatasan
Beberapa penelitian menyatakan resiko kegagalan teknik ini cukup tinggi. Ini disebabkan karena kontrol teknik ini sepenuhnya diserahkan pada pihak pasangan. Ini sangat dipengaruhi oleh kemampuan seorang pria untuk merasakan tanda ejakulasi dan kecepatannya untuk menarik penis dan mendapatkan orgasme di luar vagina.
Keterbatasan metode ini adalah :
a. Efektifitas bergantung pada kesediaan pasangan untuk melakukan senggama terputus setiap melaksanakannya.
b. Efektifitas akan jauh menurun apabila sperma dalam 24 jam sejak ejakulasi masih melekap pada penis.
c. Memutus kenikmatan dalam hubungan seksual

5. Pasangan yang cocok menggunakan metode Coitus Interruptus
a. Pria yang ingin berpartisipasi aktif dalam keluarga berencana
b. Pasangan yang tidak ingin menggunakan metode KB lainnya
c. Pasangan yang membutuhkan kontrasepsi dengan segera.
d. Pasangan yang memerlukan metode sementara, sambil menunggu metode lainnya
e. Pasangan yang memerlukan metode pendukung
f. Pasangan yang melakukan hubungan seksual secara tidak teratur.

6. Pasangan yang tidak cocok menggungakan metode Coitus Interuptus
a. Pria dengan pengalaman ejakulasi dini.
b. Pria yang sulit melakukan senggama terputus
c. Perempuan yang mempunyai pasangan yang sulit bekerjasama
d. Pasangan yang kurang dapat saling berkomunikasi
e. Pasangan yang tidak bersedia melakukan senggama terputus

7. Hal-hal yang perlu diperhatikan
a. Meningkatkan kerjasama dan membangun saling pengertian sebelum melakukan hubungan seksual dan pasangan harus mendiskusikan dan menyepakati penggunaan metode senggama terputus.
b. Sebelum berhubungan pria terlebih dahulu mengosongkan kandung kemih dan membersihkan ujung penis untuk menghilangkan sperma dari ejakulasi sebelumnya.
c. Apabila merasa akan ejakulasi, pria segera mengeluarkan penisnya dari vagina pasangannya dan mengeluarkan sperma di luar vagina
d. Pastikan pria tidak terlambat melaksanakannya
e. Tidak dianjurkan pada masa subur.


F. Kondom Pria
1. Pengertian
Kondom adalah salah satu alat kontrasepsi terbuar dari karet/ lateks, berbentuk tabung tidak tembus cairan dimana salah satu ujungnya tertutup rapat dan dilengkapi kantung untuk menampung sperma. Kebanyakan kondom terbuat dari karet lateks tipus, tetapi ada yang membuatnya dari jaringan hewan (usus kambing) atau plastik (polietilen).
Sekarang banyak kondom yang berbeda dalam hal:
a. Bentuk :
Ada yang ujungnya rata, ada yang ujungnya memiliki penampung sperma.
b. Warna :
Ada yang tidak tembus pandang, ada yang transparan, dengan berbagai macam warna.
c. Lubrikasi :
Ada yang menggunakan minyak silikon, jelly, bedak atau yang kering.
d. Ketebalan :
Kondom memiliki ketebalan yang standar dan tipis. Kebanyakan orang memilih yang sangat tipis untuk kenyamanan dalam pemakaian.
e. Permukaan :
Hem, bergelombang, tidak licin. Sekarang produsen seemakin bervariatif, selain untuk menarik pelanggan juga untuk menambah sensasi dalah hubungan.
f. Spermisida :
Kondom yang beredar ada yang menggunakan spermasida, ada juga yang tidak.spermasida yang digunakan biasanya nonoxyne-9 atau menfegol yang berfungsi untuk membunuh sperma.



2. Jenis Kondom
Pada umumnya terbuat dari karet yang disebut lateks, ada pula yang terbuat dari plastik (polyurethane). Kondom berbahan plastik relatif mahal dan mudah rusak, sering digunakan untuk orang yang alergi terhadap lateks. Ada pula kondom yang terbuat dari bahan alami yakni membran hewan.

3. Cara Kerja
Kondon menghalangi sperma masuk ke dalam rahim, sehingga sel sperma dan sel telur tidak bertemu. Sehingga tidak terjadi kehamilan.

4. Efektifitas Kondom
Efektifitas kondom untuk mencegah kehamilan sekitar 85%. Efektifitas akan meningkat dengan penggunaan yang benar. Angka kegagalan 3% , praktis 5-20%. Sangat efektif jika digunakan pada waktu istri dalam periode menyusui (lactation Aminorhea Method). Akan lebih efektif bila dikombinasikan dengan sistem lendir.

5. Manfaat Kondom
a. Efektif sebagai alat kontrasepsi bila dipakai dengan baik dan benar.
b. Murah dan mudah didapat tanpa resep dokter dan dapat didistribusikan oleh dan untuk masyarakat (community based).
c. Praktis dan dapat dipakai sendiri
d. Tidak ada efek hormonal
e. Dapat mencegah kemungkinan penularan penyakit menular seksual termasuk HIV/AIDS.
f. Mudah dibawa.
g. Kondom menggunakan pelicin/ pelumas sehingga dapat menambah frekuensi hubungan seksual dan secara psikologis menambah kenikmatan.
h. Kondom membantu suami yang mengalami ejakulasi dini.
i. Ada jaminan pengawasan kualitas produksi bahwa produk layak dipasarkan. Sebelum dipasarkan kondom harus diuji di laboratorium dan harus memenuhi standar internasional yangditetepkan ISO (international Organitation Standardization), CEN (Comitee European Denormalization), dan ASTM (American Socienty for Testing and Mterials).

6. Keterbatasan Kondom
a. Kadang-kadang ada pasangan yang alergi terhadap karet kondom.
b. Kondom hanya dapat dipakai satu kali.
c. Secara psikologis kemungkinan mengganggu kenyamanan.
d. Kondom kadaluarsa mudah sobek dan bocor.

7. Cara Penggunaan Kondom
a. Pegang bungkus kondom dengan kedua belah tangan, lalu dorong kondom dengan jari ke posisi bawah. Tujuannya agar tidak tersobek saat membuka bungkusnya. Selanjutnya sobek bagian atas bungkur kondom.
b. Dorong kondom dari bawah agar keluar dari bungkusnya, kemudian pegang kondom dan perhatikan bagian yang menggulung harus berada di sebelah luar.
c. Pencet ujung kondom dengan ibu jari dan telunjuk agar tidak ada udara yang masuk dan letakkan pada kepala penis.
d. Pada saat kondom dipasang, penis harus dalam keadaan tegang (ereksi). Pasanglah kondom dengan menggunakan telapak tangan untuk mendorong gulungan kondom hingga pangkal penis (jangan menggunakan kuku karena kondom dapat robek).
e. Setelah ejakulasi, cabut penis dari vagina ketika masih ereksi, dan tahan kondom di pangkal penis dengan jari agar kondom tidak lepas dan tidak meninggalkan air mani di vagina.
f. Setelah menggunakan, ikat kondom agar cairan sperma tidak keluar. Kondom bekas langsung dibuang ke tempat yang seharusnya, untuk mencegah mengkontaminsi orang lain, terutama anak-anak.

8. Hal-hal yang Harus Diperhatikan dalam Penggunaan Kondom
a. Periksalah tanggal kadaluarsa pada bungkus kondom. Periksalah kondisi bungkus kondom, jangan menerima atau membeli kondom yang bungkusnya sudah rusak, ada gelembung udara didalamnya dan berlubang.
b. Gunakan kondom baru setiap kali bersenggama.
c. Hati-hati membuka bungkus kondom, jangan sampai kondom sobek.
d. Pasang kondom sebelum kontak genital, untuk mencegah masuknya sperma atau bibit penyakit ke dalam vagina (atau sebaliknya).
e. Hati-hati dalam memasang dan melepaskan kondom bagi mereka yang memiliki kuku panjang atau cincin dengan bagian yang tajam.
f. Jika pelicin yang ada pada kondom dirasa kurang, gunakan lubrikan atau jelly yang dianjurkan. Jangan menggunakan bahan-bahan seperti vaselin, lotion, atau produk minyak lainnya, karena dapat meningkatkan kemungkinan robeknya kondom.
g. Bila kondom pecah atau robek selama senggama, gunakan segera spermasida (busa atau gel), dan pertimbangkan menggunakan kontrasepsi darurat, untuk mencegah terjadinya kehamilan.
h. Simpan persedian kondom ditempat yang sejuk dan kering. Jauhkan kondom dari sinar lampu neon, TL dan letakkan ditempat yang tidak terkena sinar matahari langsung tau di tempat yang panas.
i. Sebaiknya tidak meletakkan kondom di saku celana, karena suhu tubuh dapat mempengaruhi kualitas kondom. Jangan gunakan kondom bila terlihat rusak atau lapuk, karena cenderung robek.


9. Efek Samping
a. Mengurangi kenikmatan hubungan seksual
b. Alergi terhadap karet
c. Kondom rusak atau bocor.

10. Tempat Mendapatkan Kondom
a. Apotik
b. Klinik KB
c. PPKBD/ sub PPKBD
d. Pos KB desa
e. Toko obat
f. Pasar swalayan
g. Puskesmas/ puskesmas pembantu
h. Vending machine kondom

baca selengkapnya...

SISTEM INTEGUMENT/ ANATOMI FISIOLOGI KULIT

CIRI-CIRI KULIT
1. Pembungkus yang elastis yang melindungi kulit dari pengaruh lingkungan.
2. Alat tubuh yang terberat : 15 % dari berat badan.
3. Luas : 1,50 – 1,75 m.
4. Tebal rata – rata : 1,22mm.
5. Daerah yang paling tebal : 66 mm, pada telapak tangan dan t. kaki dan paling tipis : 0,5 mm.pada daerah penis.



ANATOMI FISIOLOG KULIT

KULIT TERBAGI MENJADI 3 LAPISAN:
1. EPIDERMIS
Terbagi atas 4 lapisan:
a. Lapisan basal / stratum germinativum
• terdiri dari sel – sel kuboid yang tegak lurus terhadap dermis.
• Tersusun sebagai tiang pagar atau palisade.
• Lapisan terbawah dari epidermis.
• Terdapat melanosit yaitu sel dendritik yang yang membentuk melanin( melindungi kulit dari sinar matahari.

b. lap. Malpighi/ stratum spinosum.
• Lapisan epidermis yang paling tebal.
• Terdiri dari sel polygonal
• Sel – sel mempunyai protoplasma yang menonjol yang terlihat seperti duri.

c. lap. Granular / s. granulosum.
• Terdiri dari butir – butir granul keratohialinyang basofilik.

d. lapsan tanduk / korneum.
• Terdiri dari 20 – 25 lapis sel tanduk tanpa inti.

Setiap kulit yang mati banyak mengandung keratin yaitu protein fibrous insoluble yang membentuk barier terluar kulit yang berfungsi:
1. Mengusir mikroorganisme patogen.
2. Mencegah kehilangan cairan yang berlebihan dari tubuh.
3. Unsure utam yang mengerskan rambut dan kuku.

Setiap kulit yang mati akan terganti tiap 3- 4 minggu. Dalam epidermis terdapat 2 sel yaitu :
1. Sel merkel.
Fungsinya belum dipahami dengan jelastapi diyakini berperan dalam pembentukan kalus dan klavus pada tangan dan kaki.
2. Sel langerhans.
Berperan dalam respon – respon antigen kutaneus.
Epidermis akan bertambah tebal jika bagian tersebut sering digunakan.
Persambungan antara epidermis dan dermis di sebut rete ridge yang berfunfgsi sebagai tempat pertukaran nutrisi yang essensial. Dan terdapat kerutan yang disebut fingers prints.

2. DERMIS.( korium)
• merupakan lapisan dibawah epidermis.
• Terdiri dari jaringan ikat yang terdiri dari 2 lapisan:pars papilaris.( terdiri dari sel fibroblast yang memproduksi kolagen DAN Retikularis YG Terdapat banyak p. darah , limfe, dan akar rambut, kelenjar kerngat dan k. sebaseus.

3. JARINGAN SUBKUTAN ATAU HIPODERMIS / SUBCUTIS.
• Lapisan terdalam yang banyak mengandung sel liposit yang menghasilkan banyak lemak.
• Merupakn jaringan adipose sebagai bantalan antara kulit dan setruktur internal seperti otot dan tulang.
• Sebagai mobilitas kulit, perubahan kontur tubuh dan penyekatan panas.
• Sebagai bantalan terhadap trauma.
• Tempat penumpukan energi.

4. RAMBUT.

Terdapat di seluruh kulit kecuali telapak tangan kaki dan bagian dorsal dari falang distal jari tangan, kaki, penis, labia minora dan bibir.
Terdapat 2 jenis rambut :
a. rambut terminal ( dapat panjang dan pendek.)
b. Rambut velus( pendek, halus dan lembut).
Fungsi rambut
1. melindungi kulit dari pengaruh buruk:Alis mata melindungi mata dari keringat agar tidak mengalir ke mata, bulu hidung (vibrissae)
2. menyarig udara.
3. serta berfungsi sebagai pengatur suhu,
4. pendorong penguapan kerngat dan
5. indera peraba yang sensitive.
RaMbut terdiri dari akar ( sel tanpa keratin) dan batang ( terdiri sel keratin )
Bagian dermis yang masuk dalam kandung rambut disebut papil.
Terdapat 2 fase :
1. fase pertumbuhan (Anagen)
kecepatan pertumbuhan rambut bervariasi rambut janggut tercepat diikuti kulit kepela.
Berlangsung sampai dengan usia 6 tahun.
90 % dari 100.000 folikel rambut kulit kepala normal mengalami fase pertumbuhan pada satu saat.
2. Fase Istirahat( Telogen)
Berlangsung + 4 bulan, rambut mengalami kerontokan
50 – 100 lembar rambut rontok dalam tiap harinya.
Gerak merinding jika terjadi trauma , stress, dsbt Piloereksi.
Warna rambut ditentukan oleh jumlah melanin .
Pertumbuhan rambut pada daerah tertentu dikontrol oleh hgormon seks( rambut wajah, janggut, kumis, dada, punggung, di kontrol oleh H. Androgen.
Kuantitas dan kualitas distribusi ranbut ditentukan oleh kondisis Endokrin.
Hirsutisme ( pertumbuhan rambut yang berlebihan pada S. Cushing(wanita).

5. KUKU
Permukaan dorsal ujung distal jari tangan atau kaki tertdapat lempeng keatin yang keras dan transparan.tumbuh dari akar yang disebut kutikula.
Berfungsi mengangkat benda – benda kecil.
Pertumbuhan rata- rata 0,1 mm / hari.pembaruan total kuku jari tangan : 170 hari dan kuku kaki: 12- 18 bulan.
KELENJAR – KELENJAR PADA KULIT
1. Kelenjar Sebasea
berfungsi mengontrol sekresi minyak ke dalam ruang antara folikel rambut dan batang rambut yang akan melumasi rambut sehingga menjadi halus lentur dan lunak.
2. Kelenjar keringat
diklasifikasikan menjadi 2 kategori:
a. kelenjar Ekrin terdapat disemua kulit.
Melepaskan keringat sebgai reaksi penngkatan suhu lingkungan dan suhu tubuh.
Kecepatan sekresi keringat dikendalkan oleh saraf simpatik.pengekuaran keringat oada tangan, kaki, aksila, dahi, sebagai reaksi tubuh terhadap setress, nyeri dll.
b. kelenjar Apokrin.
Terdapat di aksil, anus, skrotum, labia mayora, dan berm,uara pada folkel rambut.
Kelenjar ininaktif pada masa pubertas,pada wanit a akan membesar dan berkurang pada sklus haid.
K.Apokrin memproduksi keringat yang keruh seperti susu yang diuraikan oleh bajkteri menghasilkan bau khas pada aksila.
Pada telinga bagian luar terdapat kelenjar apokrin khusus yang disebut K. seruminosa yang menghasilkan serumen(wax).
FUNGSI KULIT SECARA UMUM.
1. SEBAGAI PROTEKSI.
• Masuknya benda- benda dari luar(benda asing ,invasi bacteri.)
• Melindungi dari trauma yang terus menerus.
• Mencegah keluarnya cairan yang berlebihan dari tubuh.
• Menyerap berbagai senyawa lipid vit. Adan D yang larut lemak.
• Memproduksi melanin mencegah kerusakan kulit dari sinar UV.

2. PENGONTROL/PENGATUR SUHU.
• Vasokonstriksi pada suhu dingn dan dilatasi pada kondisi panas peredaran darah meningkat terjadi penguapan keringat.
3 proses hilangnya panas dari tubuh:
• Radiasi: pemindahan panas ke benda lain yang suhunya lebih rendah.
• Konduksi : pemindahan panas dari ubuh ke benda lain yang lebih dingin yang bersentuhan dengan tubuh.
• Evaporasi : membentuk hilangnya panas lewat konduksi
• Kecepatan hilangnya panas dipengaruhi oleh suhu permukaan kulit yang ditentukan oleh peredaran darah kekulit.(total aliran darah N: 450 ml / menit.)
3. SENSIBILITAS
• mengindera suhu, rasa nyeri, sentuhan dan rabaaan.

4. KESEIMBANGAN AIR
• Sratum korneum dapat menyerap air sehingga mencegah kehilangan air serta elektrolit yang berlebihan dari bagian internal tubuh dan mempertahankan kelembaban dalam jaringan subcutan.
• Air mengalami evaporasi (respirasi tidak kasat mata)+ 600 ml / hari untuk dewasa.
5. PRODUKSI VITAMIN.
• Kulit yang terpejan sinar Uvakan mengubah substansi untuk mensintesis vitamin D.
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK GANGGUAN SISTEM INTEGUMENT
1. BIOPSI KULIT.
Mendapatkan jaringan untuk dilakukan pemeriksaan mikroskopik dengan cara eksisi dengan scalpel atau alat penusuk khusus ( skin punch) dengan mengambil bagian tengah jaringan.
INDIKASI
Pada nodul yang asal nya tidak jelas untuk mencegah malignitas. Dengan warna dan bentuk yang tidak lazim.
Pembentukan lepuh.

2. PATCH TEST
Untuk mrngenali substansi yang menimbulkan alergi pada pasien dibawah plester khusus ( exclusive putches )
INDKASI
Dermatitis, gejalak kemerahan, tonjolan halus, gatal- gatal. Reaksi + lemah.
Blister yang halus, papula dan gatal –gatal yang hebat reaksi + sedang.
Blister/bullae, nyeri, ulserasi reaksi + kuat.

Penjelasan pada pasien sebelum dan sesudah pelksanaan patch test.
Jangan menggunakan obat jenis kortison selam satu minggu sebelum tgl pelaksanaan.
Sample masing – masing bahan tes dalam jumlah yang sedikit dibubuhkan pada plester berbentuk cakaram kemudian ditempel pada punggung,dengan jumlah ynag bervariasi.( 20 – 30 buah.)
Pertahankan agar daerah punggung tetap kering pada saat plester masih menempel.
Prosedur dilaksanakan dalam waktu 30 menit.
2- 3 hari setelah tes plester dilepas kemudian lokasi dievaluasi.

3. PENGEROKAN KULIT.
Sampel kulit dikerok dari lokasi lesi, jamur, yang dicurigai.dengan menggunakan skatpel yang sudah dibasahi dengan minyak sehingga jaringan yang dikerok menempel pada mata pisau hasil kerokan dipindahkan ke slide kaca ditutup dengan kaca objek dan dipriksa dengan mikroskop.

4. PEMERIKSAAN CAHAYA WOOD ( LIGHT WOOD).
Menggunakan cahaya UV gelombang panjang yang disebut black light yang akan menghasilakan cahaya berpedar berwarna ungu gelap yang khas.cahaya akan terlihat jelas pada ruangan yang gelap, digunakan untuk memebedakan lesi epidermis dengan dermis dan hipopigmentasi dengan hiperpigmentasi.

5. APUS TZANCK.
Untuk memeriksa sel – sel kulit yang mengalami pelepuhan.
INDIKASI
Herpes zoster,varisella, herpes simplek dan semua bentuk pemfigus.
Secret dari lesi yang dicurigai dioleskan pada slide kaca diwarnai dan periksa.


kulit terdiri dari
• Epidermis
• Dermis
• Lemak subkutan
epidermis
• Paling luar, ketebalan < 1 mm
• Dibagi menjadi 5 lapisan : Stratum corneum, Stratum lusidum, Stratum granulosum, Stratum spinosum, Stratum basale
• –> sel utama yang berdiferensiasi adalah keratinosit –> keratin (suatu protein fibrosa)
• Proses migrasi sel epiermis –> 28 hari
• –> melanosit –> melanosoma —> melanin
dermis
• Terdiri dari serabut kolagen elastin dan retikulin àkulit kuat dan lentur
• Mempunyai pembuluh darah dan saraf
• Terdapat limposit, histiosit, sel mast, leukosit
• Adneksa: rambut, kuku kel ekrin, sebasea dan apokrin
Lemak subkutan
• Isolasi suhu dan penyimpanan energi
• Daya tarik sexual
• Kelenjar keringat, kecuali telinga
• Kelenjar sebasea; di dada, wajah, punggung aktivitasnya diatur oleh homon
Fisiologi kulit
• Dapat dilihat, diraba, menjamin kelangsungan hidup
• Menyokong penampilan dan kepribadian
• Mempunyai arti estetik, ras
• Komunikasi non verbal
Fungsi kulit
• Proteksi
• Absorpsi
• Ekskresi
• Persepsi sensori
? Tekanan; pacini
? Panas; rufini
? Dingin; krause
? Raba; taktil meisner
• Pengaturan suhu tubuh
• Membentuk figmen
• Proses keratinisasi
• Pembentukan vit D
Kelenjar sekitar kulit
• Kelenjar keringat
• Kelenjar ekrin
? Kecil, dangkal I ermis, bermuara di permukaan kulit, sekret encer ± 1,5 lt/24 jam, pada udara panas/kering ± 6 lt/24 jam. Sekresi dipengaruhi stress emosional, panas, sara simpatis
• Kelenjar apokrin
? Letak lebih dalam, sekresi kental, terdapat pada axila, areola mamae, pubis.
• Kelenajr sebasea
• Terdapat di permukaan kulit, kecuali telapak tangan+kaki
• Terletak I samping akar rambut, muara pada folikel rambut
• Sekresi sebum àhormon androgen, pada remaja meningkat, menopause+manula menurun
rambut
• Fungsi: memberi lap[isan lemak pada kulit, kuku, rambut, menahan evaporasi
• Struktur keratin, ± 100.000 folikel rambut di kepala, N : 100-150 rambut gugur/hr
• Warna ditentukan oleh kuantitas melanin, bila putih ada kegagalan membentik melanin
• Siklus pertumbuhan rambut; fase pertumbuhan, atropi, istirahat(rontok)
• Stressor lokal dan sistemik àrontok
Kuku
• Bagian terminal lapisan tanduk yang menebal (stratun corneum).
• Tdd; akar kuku (bagian yang terbenam di dalam kulit jari), badan kuku; bagian atas jaringan lunak ujung jari
• Tumbuh 1 mm/mg, kontinue selama hidup
• Fungsi melindungi jaringan dengan khususnya rabaan halus unung jari



baca selengkapnya...

Perpustakaan Universitas Indonesia >> UI - Tesis S2
Efektifitas perawatan tali pusat metode asuhan persalinan normal (APN)
dibandingkan dengan metode alkohol terhadap lama puput tali pusat di
Kelurahan Penjaringan Jakarta Utara tahun 2003
Hasnerita
Deskripsi Dokumen: http://www.digilib.ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail.jsp?id=76865
------------------------------------------------------------------------------------------
Abstrak
Di Indonesia, Angka Kematian Neonatal 25 per 1000 kelahiran hidup dan angka kematian neonatal
dini (0-7 hari) 15 per 1000 kelahiran hidup (SDKI 1997). Menurut survei kesehatan rumah tangga
(START) tahun 1995), gangguan perinatal merupakan urutan penyebab kematian bayi di pulau
Jawa-Bali (33,5%), diikuti kematian yang disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan akut (32,1%).
Di luar Jawa-Bali, gangguan perinatal merupakan urutan kedua (26,9%) setelah infeksi saluran
pernafasan akut (28%). (Depkes, 2000)

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui lama puput tali pusat bayi baru lahir dengan metode asuhan
persalinan normal (APN) dibandingkan dengan metode alkohol.di Kelurahan Penjaringan Jakarta
Utara tahun 2002.
Studi ini menggunakan rancangan cross sectional, responden adalah ibu yang mempunyai bayi
dengan menggunakan perawatan tali pusat dengan metode Asuhan Persalinan Normal (APN) di RB
Tri TungaI dan ibu yang menggunakan perawatan tali pusat bayinya dengan metode alkohol di
Bidan Praktek swasta (BPS) tahun 2003.
Subjek / responden : sebanyak 138 orang , dimana 69 orang menggunakan perawatan tali pusat
metode APN dan 69 orang dengan metode Alkohol kemudian ditanyakan lama puput tali pusat pada
saat kunjngan pertarna neonatal dan dicatat lama puputtali pusat kedua metode.
Hasil penelitian pada kedua metode tidak didapatkan perbedaan bermakna dalam hal umur,
pendidikan,BB bayi, jumlah anak, kondisi rumah dan lingkungan. Dari segi biaya lebih murah
metode APN bila dibandingkan dengan metode Alkohol. Didapatkan Lama puput tali pusat
Perawatan APN < 7 had 53 (76,8%) dan 7 hari 16 (23,2%) sedangkan perawatan dengan Alkohol <
7 hari 17 (24,6 %) dan 7 hari 52 (75,4%).
Hasil studi menunjukan adanya hubungan yang bermakna antara metode APN dengan alkohol
didapatkan OR 1-0,13 (4,63 - 22,16 . CI 95 %). Perbedaan lama puput tali pusat metode APN
dengan metode alkohol secara statistik bermakna (p = 0,00). artinya Efektifitas perawatan tali pusat
metode alkohol memiliki kecendrungan 10,13 kali lebih tinggi untuk mengalami lama puput >7 hari
bila dibandingkan dengan metode perawatan tali pusat metode APN, bukti-bukti menunjukan
bahwa perawatan tali pusat memakai alkohol menyebabkan alkohol dapat membunuh flora normal
yang ada pada tali pusat sehingga memperlambat proses puput tali pusat dan mempengaruhi
pengeringan tali pusat secara alami (WHO,1999).
Kesimpulan perawatan tali pusat metode Asuhan Persalinan Normal (APN) mempunyai efektivitas
lebih baik , sekalipun di daerah prasejahtera I bila dibandingkan dengan perawatan tali pusat dengan
metode alkohol terhadap lama puput tali pusat.
Saran penelitian ini hanya dilakukan di Jakarta Utara, dengan karakteristik lingkungan dan perilaku
yang berbeda diharapkan pada peneliti lain untuk dapat melakukan diluar DKI Jakarta.

baca selengkapnya...

Counter


counter

buku tamu


ShoutMix chat widget