Change Language

Translate this page from Indonesian to the following language!

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan

Anemia Pada Ibu Hamil

ANEMIA PADA IBU HAMIL

I. Pengertian

Anemia pada ibu hamil adalah kondisi ibu hamil dimana kadar Hb kurang dari normal (kurang dari 12 g%) dan hematokrit kurang dari 37%. Nilai hematokrit wanita dewasa 37-47% dan wanita hamil (kehamilan 30 minggu) 26-34%

II. Patofisiologi anemia pada kehamilan

Perubahan hematologi sehubungan dengan kehamilan adalah karena perubahan sirkulasi yg makin meningkat terhadap plasenta dari pertumbuhan payudara. Volume plasma meningkat 45-65% dimulai pada trimester ke II kehamilan, dan maksimum terjadi pada bulan ke 9 dan meningkatnya sekitar 1000ml, menurun sedikit menjelang aterem serta kembali normal tiga bulan setelah partus. Stimulasi yang meningkatkan volume plasma seperti laktogen plasenta, yang menyebabkan peningkatan sekresi aldosteron.

III. Etiologi

Etiologi anemia defisiensi besi pada kehamilan yaitu :

a. Hipervolemia menyebabkan terjadinya pengenceran darah

b. Pertambahan darah tidak sebanding dengan pertambahan plasma

c. Kurangnya zat besi dalam makanan

d. Kebutuhan zat besi meningkat

e. Gangguan pencernaan dan absorbsi

IV. Gejala klinis

Wintrobe mengemukakan bahwa manifestasi klinis dari anemia defisiensi sangat bervariasi, bisa hampir tanpa gejala, bisa juga gejala-gejala penyakit dasarnya. Gejala-gejala dapat berupa kepala pusing, palpitasi, berkunang-kunang, perubahan jaringan epithel kuku, gangguan sistem neuromuskular, lesu, lemah, lelah, disphagia dan pembesaran kelenjar limpa. Pada umumnya sudah disepakati bahwa bila kadar hemoglobin<7gr/dl>> 11gr/dl), anemia ringan (8-11gr/dl) dan anemia berat (< 8g/dl). Berdasarkan hasil pemeriksaan darah ternyata rata-rata kadar hemoglobin ibu hamil adalah sebesar 11.28mg/dl, kadar hemoglobin terendah 7.63mg/dl dan tertinggi 14.00mg/dl.

V. Dampak anemia defisiensi zat besi pada ibu hamil

Soeprono menyebutkan bahwa dampak anemia pada kehamilan bervariasi dari keluhan yang sangat rinagn hingga terjadinya gangguan kelangsungan kehamilan abortus, partus immature/premature, gangguan proses persalinan (innertia, atonia, partus lama, perdaraham atonis), gangguan pada masa nifas (subinvolusi rahim, daya tahan terhadap infeksi dan stres kurang, produksi ASI rendah), dan gangguan pada janin (abortus, dismaturitas, mikrosomi, BBLR, kematian perinatal dan lain-lain).

baca selengkapnya...

Akut Limfoblastik Leukemia (ALL)

AKUT LIMFOBLASTIK LEUKEMIA

(ALL)

A. Anatomi Fisiologi Darah

1. Pengertian

Darah adalah cairan di dalam pembuluh darah yang mempunyai fungsi mentransportasikan oksigen, karbohidrat dan metabolit; mengatur keseimbangan asam dan basa; mengatur suhu tubuh dengan cara konduksi (hantaran), membawa panas tubuh dari pusat produksi panas (hepar dan otot) untuk mendistribusikan ke seluruh tubuh; dan pengaturan hormone dengan membawa dan menghantarkan kelnjr ke sasaran. (syaifuddin, 2003: 34)

Darah adalah jaringan cair yang terdiri atas dua bagian. (Evelyn, 2002)

2. Fungsi Darah

Menurut Evelyn 2002 fungsi darah adalah:sebagai alat pengangkut, sebagai pertahanan tubuh dan menyebarkan panas ke seluruh tubuh.

a. Bekerja dari system transport dari tubuh, mengantarkan semua bahan kimia, oksigen dan zat kimia yang diperlukan untuk tubuh supaya fungsi normalnya dapat dijalankan dan menyingkirkan karbon dioksida dan hasil buangan lainnya.

b. Sel darah merah mengantarkan oksigen ke jaringan dan menyingkirkan sebagian dari karbon dioksida.

c. Sel darah putih menyediakan banyak baha pelindung dank arena grrakan fagositosis dari beberapa sel maka melindungi tubuh dari serangan bakteri.

d. Plasma membagi protein yang diperlukan untuk pembentukan jaringan; menyegarkan cairan jaringan karena melalui cairan ini semua sel tubuh menerima makanannya. Dan merupakan kendaraan untuk mengangkut bahan buangan ke berbagai organ exkretorik untuk dibuang.

e. Harmoni dan enzim diantarkan dari organ ke organ dengan perantaraan darah.

3. Bagian-bagian Darah

a. Sel darah merah

Jika dilihat di bawah mikroskop, bentuk darah merah seperti saluran bikokaf tersebut mempunyai inti, warnanya kuning kemerah-merahan, sifatnya kenyal sehingga bias berubah bentuk sesuai dengan pembuluh darah yang sudah (Syaifuddin, 2003 :35)

Sel darah merah atau eritrosit berupa saluran kecil , cebung pada kedua sisinya sehingga dilihat dari samping tampak seperti dua buah bulan sabit yang saling bertolak belakang (Evelyn, 2002 : 153)

b. Sel darah putih

Rupanya bening dan tidak berwarna, bentuknya lebih besar 2X sel darah merah, tetapi jumlahnya lebih kecil (Evelyn, 2002 : 135). Bentuknya bening dan tidak berwarna ukurannya lebih besar dari pritosit, dapat berubah-rubah dan bergerak dengan perantaraan kaki palsu (stubepodia) mempunyai bermacam-macam inti sel dan banyak (Syaifuddin, 2003 : 42)

Sel polimorfonulitear dan monosit normal dibentuk hanya dalam sumsum tulang, sebaliknya limfosit dan sel plasma dihasilkan dalam berbagai organ limfogen termasuk kelenjar limpa, limpa kelenjar timus forsit dan sisa limfoid yang terletak dalam usus dan ditempat lain. (syaifuddin, 2003 : 42)

c. Trombosit

Trombosit adalah sel kecil kira-kira sepertiga ukuran sel darah merah. Peranannya penting dalam penggumpalan darah. (Evelyn, 2002 : 157).

Trombosit merupakan benda-benda kecil yang mati. Bentuk dan ukurannya bermacam-macam, ada yang bulat dan ada yang lonjong, warnanya putih Trombosit bukanlah sel melainkan berbentuk keeping-keping yang merupakan bagian-bagian terkecil dari sel besar. Trombosit dibuat di susunan tulang, paru-paru dan limpa dengan ukuran kira-kira 2 – 4 miliron umur peredarannya sekitra 10 hari.

Darah adalah suatu jaringan tubuh yang di dalam pembuluh darah yang warnanya merah. Warna merah itu keadaannya tidak tetap tergantung pada banyaknya oksigen dan karbondioksida di dalamnya. Darah yang mengandung karbondioksida warnanya merah tua.

Fungsi darah adalah sebagai alat pengangkut, sebagai pertahanan tubuh dan menyebarkan panas ke seluruh tubuh.

Darah terdiri dari dua bagian, yaitu sel darah yang terdiri dari eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih), trombosit (pembeku darah) dan plasma darah.

Eritrosit berfungsi untuk mengikat oksigen dari paru-paru untuk diedarkan ke seluruh tubuh dan mengikat karbondioksida dari jaringan tubuh untuk dikeluarkan melalui paru-paru. Leukosit berfungsi untuk membunuh bibit penyakit yang masuk ke tubuh dan sebagai zat pengangkut zat lemak dari dinding unsur melalui limpa terus ke pembuluh darah. Trombosit berfungsi dalam pembekuan darah.

Plasma darah sebagian besar terdiri dari air dan zat-zat di dalamnya misalnya zat makanan, hormon anti body dan lain-lain (Syaiffudin, 1997).

B. Gambaran Umum Akut Limfolastik Leukimia

  1. Pengertian

ALL (Akut Limfoblastik Leukimia) adala poliferasi sel darah putih yang masih diatur dalam jaringan pembentuk darah (Suriadi , 2001).

ALL adalah patologis dari sel pembuluh darah yang bersifat sistematik dan biasanya berakhir fatal (Ngastiyah, 2005).

ALL adalah kanker jaringan yang menghasilkan leukosit (Cecily, 2002).

Lokimia limfasitik akut (ALL) dianggap sebagai suatu proliferasi ganas limfoblas. Paling sering terjadi pada anak-anak, dengan puncak insideasi pada usia 4 tahun. Setelah usia 15, ALL jarang terjadi (Brunner, 2002)

Penelitian yang dilakukan pada ALL menunjukkan bahwa ALL mempunyai homogenitas pada fenotip permukaan sel blas dari setiap pasien. Hal ini memberi dugaan bahwa populasi sel leukimia itu berasal sari sel tunggal. Oleh karena homogenitas itu menurut Pornomo, 2005 dibuat klasifikasi LLA secara morfologik sebagai berikut:

a. L – 1 terdiri dari sel limfoblas kecil serupa, dengan kromatin homogen, anak inti umumnya tidak nampak dan sitoplasma sempit.

b. L – 2 pada jenis ini limfoblas adalah besar tetapi ukurannya bervariasi, kromatin lebih kasar dengan satu atau lebih anak inti.

c. L – 3 terdiri dari sel limfoblas besar, homogen dengan kromatin berbercak, banyak ditemukan anak inti serta sitoplasma yang basofilik dan berfakualisasi.


  1. Etiologi

Menurut Ngastiyah, 2005 penyebab ALL sampai sekarang belum diketahui dengan jelas, diduga kemungkinan besar karena virus (virus onkologik), faktor lain yang turut berperan adalah:

a. Faktor eksterogen seperti sinar X, sinar radioaktif, hormon, bahan kimia (bentol, arsen, preparat sulfat), infeksi (virus, bakteri).

b. Faktor endogen seperti Ras (orang Yahudi mudah menderita). Faktor konstitusi seperti kelainan kromosom (Sindrom Down, angka kejadian tinggi, hereditas/kembar).

  1. Patofisiologis

Virus penyebab ALL akan mudah masuk ke tubuh manusia jika struktur antigennya sesuai dengan struktur antigen manusia. Struktur antigen manusia terbentuk oleh struktur antigen dari berbagai alat tubuh, terutama kulit dan selaput lendir yang terletak di permukaan tubuh. Oleh WHO terhadap antigen jaringan telah ditetapkan istilah HL-A (Human Leucocyte Locus A). Sistem HL-A individu ini diturunkan menurut hukum genetika sehingga adanya peranan faktor ras dan keluarga dalam etiologi leukimia tidak dapat diabaikan (Ngastiyah, 2005).

  1. Manifesti Klinis menurut Cecily 2002:

a. Bukti anemia, pendarahan dan infeksi.

1) demam

2) keletihan

3) pucat

4) anoreksia

5) petekia dan pendarahan

6) nyeri sendi dan tulang

7) nyeri abdomen yang tidak jelas

8) berat badan menurun

9) pembesaran dan fibrosis organ-organ sistem retikuloendotieal hati limfa dan limfonudus.

b. Peningkatan tekanan intrakranial karena infiltrasi meninges:

1) nyeri dan kaku duduk

2) sakit kepala

3) iritabilitas

4) letargi

5) muntah

6) edema papil

7) koma

c. Gejala-gejala sistem saraf pusat yang berhubungan dengan bagian sistem yang terkena:

1) Kelemahan elistrimulas bawah

2) Kesulitan berkemih

3) Kesulitan belajar, khususnya matematika dan hafalan (efek samping lanjut dari terapi) kelemahan ekstrimitas bawah

Menurut Brunner, 2003

Limfosit immature berproliferasi dalam susunan tulang dan jaringan perkier dan mengganggu perkembangan sel normal. Akibatnya hematoporsis normal terhambat mengakibatkan penurunan jumlah letrosit, sel darah merah dan trombosit.

  1. Diagnosis

ALL dapat didiagnosa pada pemeriksaan:

a. Anamnesis

Anemia, kelemahan tubuh, berat badan menurun, anoreksia mudah sakit, sering demam, perdarahan, nyeri tulang, nyeri sendi (Ngastiyah, 2005)

Kemudian menurut Celily, 2002 dilakukan kepemeriksaan

b. Hitung darah lengkap (CBC) anak dengan CBC kurang dari 10.000/mm3 saat didiagnosa memiliki prognosis paling baik ; jumlah lethosit lebih dari 50.000/mm3 adalah tanda prognosis kurang baik pada anak sembarang umur.

c. Pungsi lumbal – untuk mengkaji keterlibatan SSP

d. Foto toraks – mendeteksi keterlibatan mediastinum

e. Aspirasi sumsum tulang – ditemukannya 25% sel blas memperkuat diagnosis

f. Pemindahan tulang atau survei kerangka – mengkaji keterlibatan tulang

g. Pemindahan ginjal, hati dan limpa – mengkaji infiltrasi leukemik

h. Jumlah trombosit – menunjukkan kapasitas pembekuan

  1. Penatalaksanaan

Menurut Ngastiyah, 2005 penatalaksanaan pada pasien ALL adalah:

a. Transfusi darah, jika kadar Hb kurang dari 69%. Pada trombositopenia yang berat dan pendarahan pasif dapat diberikan transfusi trombosit dan bila terdapat tanda-tanda DIC dapat diberikan heparin.

b. Kortosteroid (prednison, kortison, deksametason, dan sebagainya). Setelah dicapai remisi dosis dikurangi sedikit demi sedikit dan akhirnya dihentikan.

c. Sitostatika, selain sitistatika yang lama (6-merkaptispurin atau 6 mp, metotreksat atau MTX) pada waktu ini dipakai pula yang baru dan lebih paten seperti obat lainnya. Umumnya sitostatika diberikan dalam kombinasi bersama-sama dengan prednison. Pada pemberian obat-obatan ini sering terdapat akibat samping berupa alopsia (botak), stomatitis, leucopenia, infeksi sekunder atau kadidiasis. Bila jumlah leukosit kurang dari 2000 / mm3 pemberiannya harus hati-hati.

d. Infeksi sekunder dihindarkan (lebih baik pasien dirawat di kamar yang suci hama).

e. Imunoterapi, merupakan cara pengobatan yang terbaru. Setelah dicapai remisi dan jumlah sel leukimia cukup rendah (105-106), imunoterapi mulai diberikan (mengani cara pengobatan yang terbaru masih dalam perkembangan).

Menurut Ngastiyah, 2005 cara pengobatan berbeda-beda pada setiap klinik bergantung dari pengalaman, tetapi prinsipnya sama, yaitu dengan pola dasar:

a. Induksi, dimaksudkan untuk mencapai remisi dengan berbagai obat tersebut sampai sel blas dalam sumsum kurang dari 5%

b. Konsilidasi, bertujuan agar sel yang tersisa tidak cepat memperbanyak diri lagi.

c. Rumat, untuk mempertahankan masa remisi agar lebih lama, biasanya dengan memberikan sitostatika setengah dosis biasa.

d. Reinduksi, dimaksudkan untuk mencegah relaps, biasanya dilakukan setiap 3-6 bulan dengan pemberian obat-obat seperti pad induksi selama 10-14 hari.

e. Mencegah terjadinya leukimia pada susunan saraf pusat diberikan MTX secara intratekal dan radiasi kranial.

f. Pengobatan imunologik.

Menurut Kelompok Kerja RSUP Dr. Sardjito, 2000 pada penyakit ALL juga terdapat penatalaksanaan secara suportif yaitu:

a. Infeksi

Penatalaksanaan yang bertujuan untuk menghindari infeksi diantaranya adalah :

1) Menjaga keutuhan membran mukosa dan kulit.

2) Hindari pengukuran suhu dari rectal.

3) Oral hygiene adekuat dengan sikat gigi yang lembut dan cairan chlor hexidine 1%

4) Pemberian antibiotik profilaksis pada prosedur tindakan invasif.

5) Vaksinasi tidak dilakukan selama pemberian pengobatan sitostatika dan selama 6 bulan setelah pengobatan

b. Pemberian imunisasi pada setengah tahun sampai satu tahun perhentian terapi.

1). Klien dirawat di ruang suci hama.

2). Tranfusi darah, bila Hb <>

3). Metabolisme : istirahat cukupdan membatasi aktivitas keras.

4). Selama fase induksi gagal ginjal dapat dicegah dengan pemberian allopurinol dan memelihara PH untuk antara 6,5 dan 7

5). Nutrisi : pemberian diet tinggi protein dan tinggi kalori

6). Terap suportif lainnya misal personal hygiene, aktif dan dukungan emosional kepada anak dan serta orang tua.

baca selengkapnya...

RESUSITASI JANTUNG DAN PARU

RESUSITASI JANTUNG DAN PARU

BANTUAN HIDUP DASAR

Keadaan gawat darurat bias terjadi kapan saja, dimana saja dan juga pada siapa saja. Keadaan ini menuntut masyarakat agar mereka mengetahui bagaimana tindakan pertolongan pertama pada korban dalam keadaan tersebut. Salah satu prevalensi tertinggi adalah serangan jantung.

Bantuan Hidup Dasar (BHD) adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk menolong korban yang dalam keadaan nyawanya terancam. Tindakan ini merupakan langkah kedua untuk menyelamatkan korban. Ada 4 langkah yang menentukan keberhasilan pertolongan korban yang mengalami serangan jantung (cardiac arrest) :

  1. Early acces
  2. Early CPR
  3. Early Defibrilation
  4. Early Advaced Cardiac life support

Tindakan CPR harus sudah dilakukan segera ketika korban mengalami serangan jantung, semakin lama korban tidak mendapat pertolongan maka semakin kecil kemungkinan selamat. CPR harus dilakukan kurang dari 4 menit. Tindakan RJP meliputi :

a. Air Way Control (A)

Tindakan ini fokusnya membebaskan jalan nafas dari sumbatan. Sumbatan jalan nafas dapat terjadi karena beberapa hal. Pada korban tidak sadar lidah bisa menutup jalan nafas. Selain itu benda asing juga menjadi obtruksi jalan nafas. Untuk membebaskan jalan oleh karena lidah, tindakan Head Tilt Chin Lift cukup efektif pada korban non trauma cervical. Bila dicurigai ada trauma cervical dapat melakukan Jaw Thrust Maneuver.

b. Breathing (B)

Periksa ada tidaknya pernafasan

Untuk memeriksanya tempatkan telinga penolong ke dekat mulut dan hidung korban sambil tetap membuka jalan nafas. Lakukan Look , lihat adakah pergerakan dada naik turun, Listen dengarkan suara nafas, Feel rasakan hembusan udara nafas korban.

Memberikan bantuan nafas

Bila tidak bernafas segera berikan nafas 2X. berikan tiupan nafas mouth to mouth dalam 1 detik dan harus menghasilkan pengembangan dada. Untuk itu saat memberikan bantuan nafas mata tetap selalu melihat pergerakan dada. Untuk korban yang mengalami henti nafas tanpa henti jantung, maka penolong harus melakukan bantuan nafas 10-12 kali/ menit (1 bantuan nafas setiap 5-6 detik) untuk dewasa, 12-20 kali/ menit untuk bayi dan anak (1 bantuan nafas setiap 3-5 detik)

c. Circulation Suport (C)

Chek Nadi

Bantuan sirkulasi segera dilakukan bila korban mengalami henti jantung, langkah ini dilakukan segera setelah bantuan pernafasan awal diberikan. Untuk mengetahui ada tidaknya denyut nadi, lakukan perabaan arteri karotis untuk dewasa dan anak-anak, arteri brachialis atau femoralis untuk bayi. Tindakan ini dilakukan maksimal 10 detik.

Kompresi dada

Dilakukan bila tidak ada denyut nadi. Segera lakukan RJP dengan teknik yang benar. Awali dengan mencari titik kompresi, cari arkus costa dari arah penolong berada kemudian susuri keatas hingga teraba bagian bawah sternum. Letakkan salah satu pangkal tangan yang lain diatas punggung tangan yang pertama, sehingga tangan dalam keadaan parallel. Pastikan sumbu pangkal tangan tepat pada sumbu sternum, jari-jari tangan saling mengunci. Untuk mendapatkan kompresi yang efektif, beban tekanan dari bahu, posisi lengan tegak lurus, posisi siku tidak boleh menekuk, posisi tangan tegak lurus dengan badan korban. Tekan sternum 4-5cm untuk dewasa, lepaskan tekanan hingga dada kembali ke posisi normal.

Perbandingan kompresi dan ventilasi untuk korban dewasa 30 : 2 dengan 1 maupun 2 penolong. Untuk bayi 30: 2 untuk 1 penolong, bila 2 penolong 15 : 2. kecepatan kompresi dianjurkan 100x/mnt. Setelah RJP dilakukan selama 5 siklus atau 2 menit chek nadi. Untuk mencegah kelelehan antara ventilator dan kompresor bergantian. RJP bias dihentikan apabila :

  1. Korban sudah muncul tanda-tanda kematian pasti
  2. Sudah ada respon dari korban (ada nafas dan nadi)
  3. Bila penolong sudah kelelahan. Tidak ada batas waktu

Langkah-langkah BHD :

1. Kaji respon (panggil, goncangan lembut)

2. Panggil bantuan

3. Buka jalan nafas (head tilt chin lift/ jaw thrust)

4. Keluarkan benda asing yang ada dalam mulut (cross finger, fingers sweep)

5. Periksa Nafas maks 10 detik

6. Berikan 2x bantuan nafas

7. Periksa nadi karotis maks 10 detik

8. mencari titik kompresi (2-3 jari diatas PX)

9. tempatkan 1 tangan pada titik tersebut, tangan yang lain letakkan diatasnya dengan posisi jari saling bertautan.

10. lakukan kompresi 30 kali, 100x/mnt teratur, diikuti dengan bantuan nafas 2 kali

11. RJP dilakukan selama 5 siklus

12. setelah 5 siklus periksa nadi karotis

13. korban pulih lakukan secondary survey (chek adanya luka, perdaran, patah tulang)

14. berikan posisi recovery, bila tidak ada kontra indikasi

baca selengkapnya...

Cidera Panas

CEDERA PANAS


PENGERTIAN


Cedera panas adalah bentuk gangguan kesehatan yang dapat terjadi karena gagalnya tubuh menjaga keseimbangan panas. Tubuh manusia senantiasa mengadakan metabolisme. Metabolisme ini akan menghasilkan panas. Saat tubuh mengadakan aktivitas yang berat maka metabolisme tubuh juga akan semakin meningkat, sehingga panas tubuh akan semakin meningkat. Hal ini apabila seseorang melakukan latihan berat di lingkungan yang panas, maka lingkungan yang panas ini akan semakin meningkatkan panas tubuh, sehingga makin besar resikonya terkena cedera panas.

BENTUK CEDERA PANAS

  1. KEJANG PANAS

Disebabkan karena banyak keringat yang keluar, selain itu banyak juga elektrolit yang keluar sehingga tubuh kekurangan air dan elektrolit. Keadaan seperti ini dapat mengakibatkan kejang.

  1. PINGSAN KARENA PANAS / HEAT SYNCOPE

Merupakan bentuk cedera panas yang paling ringan. Disebabkan kurangnya aliran darah ke otak karena saat panas tubuh meningkat, tubuh akan menyesuaikan diri untuk mengurangi panas tubuh dengan cara melebarkan pembuluh darah. Dengan melebarnya pembuluh darah, panas tubuh yang berlebih akan dilepaskan. Akibat pelebaran pembuluh darah, maka aliran darah ke otak akan berkurang sehingga dapat mengakibatkan seseorang menjadi pingsan.

  1. KELELAHAN PANAS / HEAT EXHAUSTION

Disebabkan karena tubuh kekurangan cairan dan elektrolit, tetapi tingkatnya lebih berat dibandingkan kejang atau pingsan.

  1. SENGATAN PANAS / HEATSTROKE

Merupakan gangguan yang paling berat dan merupakan keadaan gawat darurat, sehingga digolongkan sebagai penyakit kegagalan organ menyeluruh yang meliputi gangguan peredaran darah, gangguan syaraf, gangguan fungsi ginjal, hati dan pembekuan darah serta gangguan pengeluaran keringat.

TANDA-TANDA CEDERA PANAS

  1. KEJANG PANAS

Tanda: - kesemutan/kejang otot/kram pada tangan, kaki dan kemungkinan juga kejang otot perut.

  1. PINGSAN PANAS

Tanda :

- rasa lelah yang menyeluruh

- hipotensi/tensi rendah

- pandangan kabur

- pucat

- keringat berlebih

- pingsan sesaat kemudian sadar

- suhu kulit meningkat


3. KELELAHAN PANAS

Tanda :

- keringat sangat banyak

- sempoyongan

- pucat

- sakit kepala

- mual

- bicara meracau/ngelantur

- tensi turun

- denyut nadi cepat dan lemah (normal:60-80 kali per menit)

- kadang-kadang sampai pingsan

4. SENGATAN PANAS / HEATSTROKE

Tanda :

- suhu tubuh meningkat

- otot tubuh lemah

- gerakan tungkai tidak teratur

- halusinasi

- muntah

- diare

- denyut nadi cepat dan lemah, kadang tidak teraba

- tensi sangat rendah

- tidak sadar

PENCEGAHAN

  1. PENGGUNAAN ALAT WBGT

Karena faktor-faktor lingkungan seperti kelembaban lingkungan dan temperatur udara sangat berpengaruh terhadap fungsi tubuh, maka perlu dimonitor dengan alat WBGT. Yang di monitor dengan alat WBGT yaitu :

a. suhu udara

b. kelembaban udara

c. gerakan udara

d. radiasi panas lingkungan

Alat ini dipasang pada lokasi yang sama atau berdekatan dengan tempat latihan. Dari hasil data dari alat ini digunakan sebagai patokan untuk menentukan ambang batas kegiatan fisik yang boleh dilakukan pada lingkungan yang panas. Hasil data alat WBGT di tunjukkan dengan bendera. Yang meliputi :

a. Bendera hijau : semua aktivitas fisik dapat dilakukan

dengan hati-hati.

b. Bendera kuning : aktivitas fisik harus dilakukan dengan

hati-hati dibawah pengawasan.

c. Bendera merah : aktivitas fisik pada pelatih dan siswa

harus dihentikan.

d. Bendera hitam : semua aktivitas fisik baik pelatih, siswa

dan personil harus dihentikan.

  1. PENINGKATAN KESAMAPTAAN

Dengan pemeliharaan kesehatan yang disertai program latihan yang ditingkatkan secara bertahap dengan menerapkan kaidah-kaidaah yang berlaku dalam latihan. Kegiatan lari dan kegiatan berat pada siang hari sebaiknya tidak dilakukan.

  1. PENINGKATAN AKLIMATISASI

Aklimatisasi adalah kemampuan tubuh dalam menyesuaikan diri terhadap iklim yang berbeda dengan iklim uyang biasanya tubuh berada. Aklimatisasi panas memerlukan waktu yang lebih lama dibandingkankan aklimatisasi dingin. Pada minggu-minggu pertama, beban dan lamanya latihan fisik harus dibatasi dan sedikit demi sedikit dinaikkan untuk memberi kesempatan pada tubuh untuk menjalani alkimatisasi. Setiap 20 menit latihan, istirahat 10 menit. Setelah terjadi aklimatisasi, panas tubuh seseorang akan membuat penyesuaian-penyesuaian sehingga tubuh dapat melakukan pengaturan keringat yang lebih baik.

  1. KECUKUPAN AIR DAN ELEKTROLIT

Pada saat kegiatan fisik,tubuh akan mengeluarkan keringat.Ini berarti tubuh juga kehilangan cairan dan elektrolit. Bila kehilangan cairan dan elektrolit ini tidak segera diganti maka akan dapat menyebabkan dehidrasi dan peningkatan suhu tubuh yang akan berakibat pada cedera panas. Sehingga pada saat latihan di tempat yang panas,disediakan air yang cukup, sebaiknya cukup mengandung elektrolit.

Pada latihan lapangan yang cukup berat seperti halang rintang, longmarch dll,peples air minum ditambah oralit dan diminum setiap 20 menit.

  1. KESEHATAN

Siswa dengan kondisi kesehatan yang kurang seperti sedang demam, sakit infeksi, muntah-muntah, diare dll, tidak diijinkan mengikuti latihan lapangan.

Pemberian tanda pita kuning untuk siswa dengan kondisi kesehatan kurang sehingga mudah dimonitor.

  1. ASUPAN MAKANAN DAN AIR MINUM

Asupan makanan agar memenuhi kebutuhan gizi dan kalori, yang disesuaikan dengan besarnya keluaran kalori untuk latihan.

Penimbangan berat badan dilakukan secara periodik untuk memantau kecukupan asupan makanan dan air minum.

  1. WAKTU ISTIRAHAT

Diperlukan sebagai fase pemulihan tubuh terhadap beban latihan dan regenerasi sel-sel tubuh yang rusak, sehingga proses adaptasi tubuh terhadap beban latihan berjalan positif.

Minimal 8 jam sehari, dapat terbagi menjadi 1 jam siang dan 7 jam malam.

  1. PAKAIAN DAN KELENGKAPANNYA

Pakaian (PDL) dibuat dari bahan yang menyerap keringat. Peples yang berisi air minum harus dimanfaatkan siswa setiap saat. Jika melakukan kegiatan berat, peples air minum diberi oralit.

TINDAKAN PERTOLONGAN

  1. Pindahkan ke tempat yang teduh/dingin/kendaraan yang dingin.
  2. Istirahatkan dengan posisi kaki lebih tinggi.
  3. Longgarkan pakaian, lepaskan semua perlengkapan
  4. Monitor tanda vital, bebaskan jalan nafas dan bila perlu infus NaCl 0,1% dan oksigen.
  5. Segera turunkan panas tubuh dengan menyiram air pada tubuh dan dikipas, kompres dingin pada leher dan ketiak.
  6. Beri minum air dicampur dengan oralit jika masih sadar.
  7. Bila masih tidak sadar, rujuk ke RS terdekat untuk pengobatan selanjutnya.

baca selengkapnya...
TheHack3r.com

Counter


counter

buku tamu


ShoutMix chat widget